FAKTOR PENDORONG KERJASAMA INDONESIA-MALAYSIA MELALUI JOINT NOMINATION TERKAIT PENGAKUAN BUDAYA PANTUN OLEH UNITED NATIONS EDUCATIONAL, SCIENTIFIC AND CULTURAL ORGANIZATION (UNESCO)
Abstract
Penelitian ini mengkaji fenomena kerja sama antara Indonesia dan Malaysia dalam nominasi bersama (joint nomination) budaya Pantun ke UNESCO, sebuah perubahan drastic dengan sejarah panjang konflik klaim budaya antara kedua negara serumpun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor pendorong yang memungkinkan terwujudnya kolaborasi ini, mengubah pola persaingan menjadi kemitraan. Dengan menggunakan kerangka teori kerja sama internasional dari Robert Axelrod dan Robert O. Keohane, penelitian ini berargumen bahwa kerja sama tersebut merupakan pilihan rasional yang lahir dari adanya potensi konflik (discord). Faktor pendorong utamanya adalah adanya kesamaan kepentingan (mutual interests) untuk menghindari perselisihan yang tidak produktif dan secara bersama meraih pengakuan internasional, serta kuatnya pengaruh "bayangan masa depan" (shadow of the future), di mana ekspektasi interaksi jangka panjang mendorong kedua negara untuk berkolaborasi demi keuntungan yang lebih besar. Keberhasilan ini, yang difasilitasi oleh kerangka kerja UNESCO, menandai pergeseran paradigma diplomasi budaya kedua negara dari konfrontasi reaktif menjadi kolaborasi proaktif dan dapat menjadi model untuk penyelesaian isu bilateral lainnya di masa depan.

.png)
.png)
